Posted by: steromfel on: August 17, 2011
Tulisan ini adalah sebuat tulisan mengenai pemikiran saya tentang hubungan terutama hubungan antara seorang pria dan seorang wanita. Dan juga hubungan yang sering dialami oleh orang banyak.
Ada seorang pria dan ada seorang wanita. Hubungannya sekarang biasa aja. Sekedar teman biasa. Well mereka berdua sering sekali menghabiskan waktu bersama. Makan, nonton, meluangkan waktu buat menemani temannya. Dan banyak hal-hal umum yang mereka lakukan bersama.
Statusnya sekarang adalah si pria berpacaran dan si wanitanya single. Complicated juga kan. well, ceritanya berlanjut…
Hubungan nya jadi sangat aneh saat harus menentukan batasan, batasan seperti apa hubungan yang akan terjadi. Coba melihat dari sudut pandang wanitanya, batasan ini sebagai suatu yang menjelaskan. Kemana arah hubungan dan dimana hubungan nya pada saat ini. Sedangkan dari sudut pandang pria adalah batasan yang sebenarnya sudah jelas buat dirinya. Jadi apa yang dia lakukan saat menentukan batasan itu? Sebenarnya yang dilakukannya hanyalah menyatakan apa yang sebenarnya terjadi dan menegaskan posisinya lagi. Sayangnya dia harus melakukan semua itu dengan kesadaran bahwa apa yang dia miliki semua dalam hubungannya bersama si wanita itu akan habis. Singkatnya, dia akan kehilangan apa yang dia punya dalam hubungannya bersama si wanita.
Hubungan antara wanita dan pria, tidak berlaku kebalikannya, adalah dia merasa nyaman dengan apa yang dia dapatkan saat bersama si pria, tapi dia menginginkan kejelasan atas bentuk dan rupa dan suatu hubungan, itu adalah rupa dan bentuk dari hungan si wanita dan pria itu. Tidak berlaku kebalikannya ya.
Nah bagaimana dengan hubungan si pria dan wanita, tidak berlaku sebaliknya juga.? Ya hubungannya sebenarnya hanya teman biasa, tapi dengan respon yang didapat dari si wanita, si pria merasa sangat senang. Mungkin bisa di bilang lebih dari teman biasa. Sayangnnya waktu dia tauy itu bakal lebih, dia tidak menghentikan atau menyatakan kelebihannya. Namun diapun terbawa dengan segala kelebihan yang dia dapatkan. Kelebihan ini yang kemudian membuat dia salah memposisikan dirinya. Salah menentukan reaksinya. Dan salah dalam bersikap. Sebenarnya yang terjadi adalah si pria hanya mengikuti kata hatinya. Melakukan semua yang terbaik untuk hatinya. Dan itu membuat si wanita mengharapkan kejelasan atas arah hubungan. Si pria hanya bisa meratapi apa yang akan terjadi dengan hubungannya. Apakah dia akan kehilangan, ataukah dia akan mendapatkan hal yang menyenangkan, membahagiakan dan tanpa perlu kehilangan? We’ll see…
Check list for the the story:
Pandangan dari masing-masing pihak… Checked.
Background of the story… Checked.
What they wants… Checked
Ok..
Jadi sampailah dimana si pria dan wanita harus duduk bersama menentukan apa yang akan terjadi dengan hubungan keduanya.
Sebenarnya mereka berdua tau harus mulai bicara darimana hanya saja ngak tau siapa yang harus mulai bicara. Pembicaraan dimulai dari sebuah pertanyaan. Pertanyaan singkat yang bisa membuat mereka berdua berbicara panjang lebar, bukan pembicaraan seperti pada hari-hari baik sebelumnya.
Pembicaraan yang sulit buat si pria dan pembicaraan yang menjelaskan buat si wanita. Sambil berbicara, memutar otak, kembali mengingat, dan cross check dengan perasaan, begitulah yang terjadi.
Talking about feelings itu susah buat di ingat kembali detailnya, yang teringat hanya bagaimana perasaan saat itu.
Pembicaraan di selesaikan, si wanita mendapatkan apa yang dia inginkan dan di pria mendapatkan apa yang tidak dia inginkan. Kebingungan. Bingung yang mempersoalkan bagaimana harus bersikap, bagaimana harus menanggapi keadaan ini, bagaimana harus merespons. Sungguh kebingungan yang tidak menyenangkan.
Setelah pembicaraan yang panjang ini, pria dan wanita menjalani hidupnya masing-masing. Well sedikit aneh dan sulit karena harus memikirkan ina, inu, ini, itu. Dan pastinya ada yang berkurang. Smilies, emoticon. Hal2 yg sederhana dalam berkomunikasi namun perlu. Seperti roti kismis yang ada almond nya. Ngak ada almond nya ngak masalah, masih roti kismis, tapi kalo ada almond nya jadi lebih ada texture roti kismisnya. Ya begitu lah hubungan antara pria dan wanita itu.
Untuk menggambarkan apa yang terjadi sekarang, saat ini tentang hubungan si pria dan si wanita, saya coba menggambarkan dengan analogi remah roti.
Bayangkan roti manis yang enak yang pernah kita makan, dan bayangkan juga apa yang terjadi setelah makan roti manis itu. Semua nya terasa indah.
Hubungan si pria dan wanita juga sebenarnya seperti roti manis itu. Awalnya semuanya indah dan saat hubungan itu di persidangkan, manis dari roti itu habis. Yang ada hanyalah kebingungan. Bingung mau beli lagi apa ngak? Bingung sisa roti yang ada dimakan apa ngak? Bingung rasa manis rotinya ada dimana ya? Sesaat semua itu indah, manis. Tapi setelah itu apa?…??…???
Remah rotinya itu yang biasa kita makan bila roti manisnya sudah habis. Masih pingin mendapatkan yang manis-manis dari roti tapi bukan beneran roti dan kadang justru remahannya ngak ada rasanya sama sekali. Hambar, garing, tasteless.
Begitu juga hubungan antara pria dan wanita itu. Tidak berlaku kebalikannya ya. Si pria merasakan hubungannya dengan si wanita hambar, garing dan tasteless. Dan semua itu berakhir. Nikmati aja apa yang ada. Walaupun sebenarnya yang ada itu adalah tidak ada. Kebesaran hati yang di perlukan di sini.
Mungkin kamu suka bertanya selama membaca tulisan ini, kenapa she hubungannya tidak berlaku sebaliknya, itu karena tulisan ini adalah pandangan 1 sisi yang tidak pernah ada jawabannya dari sisi sebrang. Simply subjective satu arah.
Saya memimpikan hubungan yang manis semanis roti manis, bukan remahannya. Saya berharap tulisan ini berguna dan mungkin mengena untuk orang-orang dengan keadaan khusus. Dan bila kamu benar merasakan kebingungan yang sama, kamu ngak perlu khawatir, ada orang lain juga yang pernah merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan.
Recent Comments